Membedah Surat Al Ashr

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Setelah sekian lama melupakan blog ini, karena sibuk buat laporan, tugas, galau dll, akhirnya sekarang ingat juga kalau saya punya blog :D

Well, sekarang saya ingin mencoba menuliskan kembali apa yang pernah saya dapat di salah satu kajian tentang tafsir surat al ashr, juga akan saya tambahkan beberapa referensi, karena jujur saya sudah agak lupa dengan isi kajiannya *udah-lama

hm, siapa yang tidak hafal dengan surat al ashr? pasti hampir setiap muslim menghafal surat ini, selain karena sangat pendek, namun juga tergolong mudah untuk dihafal. mengenai surat al ashr ini sendiri, imam syafi’i pernah mengatakan bahwa walaupun surat Al-’Ashr pendek, tapi ia menghimpun hampir seluruh isi Al-Qur’an. Kalau Al-Qur’an tidak diturunkan seluruhnya dan yang turun itu hanya surat Al-’Ashr saja, maka itu sudah cukup untuk menjadi pedoman umat manusia. *terdapat juga dalam tafsir mizan*

Surat ini diawali dengan sumpah dari Allah, “Demi Masa”, sering kali Allah bersumpah atas nama makhluknya, ketika Allah bersumpah atas nama makhluknya berarti :
1. makhluk tersebut sangat penting, sehingga kita harus benar benar memerhatikannya.
2. Allah akan menyampaikan kabar yang sangat penting.

disini, Allah bersumpah atas nama waktu, seberapa pentingkah waktu itu bagi manusia? bila kita cermati, ternyata banyak sekali sumpah atas nama waktu yang Allah ucapkan, misal Wadh Dhuhâ. Demi waktu dhuha. Wallaili idzâ sajâ. Demi malam apabila mulai gelap (QS. Al-Dhuha 1-2), Lâ uqsimu bi yaumil qiyâmah. Kami bersumpah dengan hari kiamat. (QS. Al-Qiyamah  1), Wallaili idzâ yaghsyâ, wannahâri idzâ tajallâ. Demi malam apabila gelap dan demi siang apabila terang benderang (QS. Al-Lail  1-2) dll.

mengenai betapa pentingnya waktu, rasulullah telah bersabda melalui salah satu hadist yang cukup terkenal :

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: 1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, 2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, 3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, 4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, 5. Hidupmu sebelum datang kematianmu.”

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Daud Ath Tho’i berkata, “Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan.”

tentu teman teman juga menyadari betapa pentingnya waktu ini untuk dapat kita manfaatkan sebaik baiknya, nah pemanfaatan yang baik itu yang seperti apa? karena ada beberapa orang yang menganggap bahwa kebaikan itu relatif tergantung dari kerangka acuan mana kita melihat suatu kondisi. nah tentu kerangka acuan Allah lah yang harusnya digunakan setiap muslim.

ok, sekarang lanjut…

mengenai pernyataan imam syafi’i, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar”

sip, sekarang kita dapat 4 point untuk menghindari kerugian:
1. beriman dengan dasar ilmu yang jelas dan kuat
2. mengamalkan ilmu (beramal shaleh)
3. menyeru kepada yang haq (berda’wah)
4. bersabar dalam berda’wah

1. beriman dengan dasar ilmu yang jelas dan kuat :
dalam surat al ashr ini Allah menegaskan, bahwa setiap manusi pada dasarnya akan mengalami kerugian, kecuali orang yang memenuhi 4 kriteria seperti yang telah disebutkan dalam poin diatas.

pada poin yang pertama, yaitu orang yang beriman. nah iman ini sendiri tidak akan sempurna tanpa ilmu, ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). bagaimana mungkin seorang manusia bisa memiliki keimanan tanpa mengetahui apa saja yang harus ia imani? apa saja konsekuensi ketika ia beriman? dsb

imam ahmad sendiri pernah berkata, “Seorang wajib menuntut ilmu yang bisa membuat dirinya mampu menegakkan agama.”

maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu yang akan menambah keimanan pada dirinya.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. ” [QS Asy Syuura ayat 52]

2. Mengamalkan Ilmu
mengenai pengamalan ilmu, Rasulullah pernah bersabda :
”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad darimi)

juga, Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, ”Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim” (Hushul al-Ma’mul).

sehingga adalah kewajiban bagi seseorang yang memiliki ilmu untuk mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain, karena setiap ilmu yang kita dapat akan dimintai pertanggung jawabannya kelak.

3. Berda’wah
 Banyak sekali ayat berkenaan dengan perintah untuk menyeru kepada kebaikan, misal salah satunya
“Katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’” (QS. Yusuf ayat 108)

Setelah kita memiliki dasar ilmu yang kuat, maka itulah yang kita jadikan sebagai hujjah ketika melakukan sesuatu, begitu juga dalam berda’wah, ketika kita sudah mengetahui alasan mengapa kita harus berda’wah maka setiap halangan ataupun rintangan tidak akan menyurutkan langkah kita. karena sesungguhnya dalam berda’wah ini akan ditemui banyak sekali halangan, sehingga kita dituntut untuk benar benar memiliki dasar yang kuat.

Rasulullah bersabda, “Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhari).

Jika kita merasa senang dengan hidayah yang Allah berikan berupa kenikmatan mengenal Islam yang benar, maka salah satu ciri kesempurnaan Islam yang kita miliki adalah kita berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah seberapapun kecilnya sumbangsih yang kita berikan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (QS. Fushshilat ayat 33)

4. Bersabar dalam berda’wah
seperti yang disebutkan dipoint sebelumnya bahwa dalam berda’wah ini akan ditemui banyak sekali rintangan, karena dalam berda’wah kita menyeru kepada sesuatu yang biasanya bertentangan dengan hawa nafsu, adat istiadat, atau aturan yang menyelisihi islam. oleh karena itu dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi disini.

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” (QS. Al-An’am ayat 34).

dua poin pertama berhubungan dengan keselamatan pribadi, sedangkan dua poin terakhir berhubungan dengan keselamatan lingkungan kita, dan semua ini harus menjadi kriteria bagi setiap muslim yang ingin selamat dari kerugian yang telah Allah nyatakan.

allahu a’lam

ref :
- pembinaan pekanan AM Mata’, suatu pagi di hari sabtu di GSS C Salman ITB
- kajianislam.wordpress.com
- lailahaillallah.com
- hadis-islam.blogspot.com
- Quran Digital

Incoming search terms:

  • demi masa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian
  • arti dan makna surat al ashr
  • demi masa manusia dalam kerugian
  • qs al-ashr 1 :
  • ap? maksud surat al ashr
  • allah bersumpah dengan makhluknya
  • demi masa sesungguhnya
  • kerugian al-quran digital
  • demi masa Sesungguhnya manusia dalam kerugian
  • tafsir ayat al-Quran tentang waktu

No related posts.

About admin