
Akhirnya, setelah sekian lama ide ide menulis sempat buntu gara gara otak difokusin buat banyak kegiatan, sekarang bisa nulis juga…. Ini pun karena semalem ngobrol sama yang punya blog catatan-adhip.blogspot.com…
ok langsung saja ke inti pembahasan, mungkin temen temen sering ya denger istilah ana, antum, anti, afawan, syukron, jazzakallah, jazzakillah, dll… khususnya yang tongkrongannya di serambi masjid, di sekre unit agama islam dll.. apa yang salah dengan kata kata tersebut? sebenarnya bukan salah atau benarnya yang akan menjadi bahasan kali ini……
tapi perlu di ingat lagi, bahwa kita orang indonesia, didalam bahasa indonesia sendiri kata kata tersebut sudah ada, dan lebih familiar dengan telinga orang indonesia.. selain itu, dengan menggunakan bahasa indonesia asli, rasa eksklusifitas para aktivis dengan orang awam akan semakin terminimalkan, sehingga akan memudahkan proses da’wah kita ke masyarakat…
sebagai kasus nyata, pernah suatu malam seusai acara kaderisasi himpunan, sebagian aktivis da’wah laki laki(biasa menyebut golongan mereka ‘ikhwan’) mengkoordinasi untuk mengantar para perempuan pulang(tentu dengan cara syar’i).. salah seorang aktivis da’wah laki laki tersebut bilang, “akhwat yang rumahnya #### kumpul disini! “… lalu ada seorang anggota perempuan yang bukan aktivis da’wah nyeletuk, “itu yang akhwat kumpul sana, saya kan bukan akhwat…” menyuruh temannya yang aktivis untuk berkumpul, padahal sama sama muslim…
ingat teman, islam itu bukan arab! dan arab itu bukan islam! jadi kenapa kita harus memakai kata kata arab dalam kehidupan sehari hari padahal dalam bahasa indonesia kata kata tersebut sudah ada….
kecuali untuk kata kata yang Rasulullah memang mencontohkannya demikian, misal salam dll….
bukan berarti saya menulis artikel ini karena saya nasionalis atau bagaimana, hanya mengingatkan bahwa untuk berda’wah kita harus menyatu dengan lingkungan tempat kita berdakwah, tapi jangan melanggar syariat….
maaf kalau tulisannya belepotan……….
No related posts.
penggunaan istilah itu hanya untuk sesama aktivis aja yang udah "paham" supaya bisa lebih cair gitu
kalo sesama masyarakat awam mah jangan gunakan istilah2 yang njelimet dan membedakan kasta seperti
semua kembali kepada bagaimana cara kita berkomunikasi
–raono emoticon-e mbah blogmu, garing..-
Assalamu'alaykum….
Tulisan bagus kawan…. Saya setuju… Sebarin donk ke temen2. aku ijin share ya… He he… Tetep SEMANGKA…
share aja…. sertain link kesini ya ris….
Setuju…
keknya saya walaupun ketemu sama org yg katanya aktivis dakwah Islam saya masih ngomong pake kata sandang "saya, gw, aing, kamu, elu, dll"
jarang pake ngane, ngantum, ukhti, dll
entah yaa.. tapi rasanya lebih nyaman aja, soalnya ga usah sok berubah wujud. Kalau ketemu temen di himpunan biasa pake "saya, gw, aing, dll"
kalau ke sekre unit agama Islam pun pake kata yg sama
setuju mas prib……